Sinoman 2: Jika Ada Sumur di Halaman Bolehlah Mampir Kencing

Rumah saya di Jalan Banyubiru 57 itu (selama 1964-1969) memiliki sumur di halaman samping. Hampir saban hari ada saja pelintas, semuanya perempuan, yang memanfaatkannya untuk numpang pipis. Datang ke sumur, menyisingkan jarik (kain batik), membungkuk atau jongkok, lalu juezzzzhhh... Setelah itu jarik diturunkan, lalu si pengencing berdiri, menimba air untuk membersihkan diri dan mengguyur lantai area sumur tak beratap itu.

Jadi jelaslah bahwa saya bukan pengintip pantat perempuan. Saban hari melihat ya biasa saja. Lagi pula kan masih bocah. Sudah sumurnya terbuka, di samping halaman ada gang pula. Pelintas gang kalau mau juga bisa melihat acara pipis simbok bakul itu.Para simbok atau mbakyu itu juga cuek saja.

Saya tak tahu sejak kapan kebiasaan itu muncul. Mungkin sebelum keluarga kami mengontrak rumah itu. Maklumlah ketika kami menempati, di sudut halaman depan rumah sudah diokupasi oleh Mbok Minah untuk berjualan lotek.  Lokasi lincak* itu strategis. Tepat memotong sudut halaman depan, diapit oleh jalan besar dan gang. Nah para pengencing itu tampaknya, mula-mula, adalah pengudap lotek.

Setelah itu, dengan maupun tanpa mengudap, para simbok langsung saja ke sumur saya untuk juezzzhhh... Mereka itu, seperti halnya peminum kendi sediaan rumah sebelah, tetangga kiri rumah.

Kalau dipikir-pikir, mereka itu memasuki properti orang tanpa izin, bahkan menggunakannya pun tanpa permisi -- kecuali bersua pemilik rumah sehingga terpaksa bilang, "Nuwun sewu badhe ndherek dhateng wingking..." (permisi, mau numpang ke belakang). Apa boleh bikin.

*) Sejenis ambin, berpermukaan bambu atau kayu, yang memiliki lubang di salah satu tepinya. Lubang itu untuk memasukkan kaki ketika si penjual  duduk. Adapun dagangan digelar di depan si penjual, tetapi masih di atas permukaan lincak, dan radius penataannya masih dalam batas jangkauan tangan si penjual. Ringkasnya, lincak adalah solusi agar penjual tak perlu bersila atau duduk bersimpuh (timpuh).

Urination on-the-fly

Kalau dipotret sekarang, bisa dianggap sangat lucu, atau malah kemudian kena pasal (UU porno-pornoan).
Tetapi dulu fakta kepraktisannya memang begitu.

Melanjutkan kedermawanan memberi air minum, diberikan fasilitas pula untuk buang air kecil. Bukan kah ini siklus yang mutlak diperlukan oleh metabolisme tubuh dan usaha yg esensial untuk menyelamatkan ginjal kita ?

Soal buang air kecil secara on-the-fly (berdiri) bagi perempuan, sebenarnya ada beberapa alasan.
Di jalan-jalan sekitar perbukitan Kopeng - Getasan hal tsb (dulu) sering sekali terlihat. Wanita-wanita perkasa kita pada waktu itu harus mengangkut beban (kayu bakar, sayuran, dsb.) dengan kekuatan sendiri. Jangan kan untuk membawa berjalan, untuk mengangkat ke punggung pun sudah berat.
Alhasil, dicapai lah teknik optimasi "urination on-the-fly" tadi. Buang air kecil sambil berdiri, bahkan sambil menggendong beban (yg sangat berat !).
Kalau setiap kali harus menaik-turunkan beban ke punggung, wah lebih berat urusannya.

Kelucuan pada paragraf di atas adalah ilustrasi kepedihan hidup di masa itu. Mungkin rasa perih masih berlanjut sampai sekarang (meski dalam arsir dan warna yg berbeda).

kepedihan hidup

kadang kita perlu ambil jarak juga sih... :)